Terbentang
asamu di layar langit dan kau paksakan kepalamu mendongak ke angkasa.
Kau paksakan tanganmu seimbangkan goyang tubuhmu di bumi. Kau bukan si
pandir hendak menjilati kabut atau si pendek hendak mencolek puncak
bukit dari kakinya.
Tamu-tamu itu kau tuangkan air untuk
mereka dari teko kecil ke dalam gelas-gelas kaca. Sekilas kau intip
mereka dari sudut kelopak. Kau tahu tamu-tamu itu begitu agung. Dan kau
sematkan asa dalam paduan warna air yang tertuang.
Tuangan
asamu takkan terjun seterjunnya air terjun ke bawah. Kau fahami asamu
membumbung tinggi di angkasa. Kau tuangkan ke atas asa-asa. Dan setiap
hari tamu-tamu silih berganti rutin menjelma. Kau tahu mereka begitu
agung. Matahari bertamu tuk terangkan lukisan langit; bulan bertamu tuk
izinkan matamu mengintip masih melayangnya asa; bintang-bintang
terkadang menjelma menjadi titik-titik sunyi di baliknya.
Bangunlah!
Kau layak fahami asamu lebih agung dari yang bertamu. Mereka hadir
untukmu. Dan kau tidak hadir untuk mereka. Kenapa ternyata kau selipkan
doamu pada mereka!?
Kau masih paksakan kepalamu mendongak
ke angkasa; berharap sejuta...tanpa seikat doa; kau kan sampai pada
labuhan mimpimu. Dan zaman terus berpacu secepat kecewamu yang berlari
terlepas talinya dari jemari-jemari doa.
Kau masih
paksakan kepalamu merunduk ke pusara; berputus sejuta asa...dengan
segunung dosa; kau takkan sampai pada ujung hasratmu. Dan tanah terus
mengeras sekeras tekadmu dulu; ketika kau masih mampu mengarang
syair-syair.
Mereka masih tertulis...kan kutulis kembali di pelepah asamu...yang juga terkubur oleh rasa simpatiku padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar