Entri Populer

Rabu, 20 Juni 2012

TIADA MENDAKI DAN MATI



Terbentang asamu di layar langit dan kau paksakan kepalamu mendongak ke angkasa. Kau paksakan tanganmu seimbangkan goyang tubuhmu di bumi. Kau bukan si pandir hendak menjilati kabut atau si pendek hendak mencolek puncak bukit dari kakinya.

Tamu-tamu itu kau tuangkan air untuk mereka dari teko kecil ke dalam gelas-gelas kaca. Sekilas kau intip mereka dari sudut kelopak. Kau tahu tamu-tamu itu begitu agung. Dan kau sematkan asa dalam paduan warna air yang tertuang.

Tuangan asamu takkan terjun seterjunnya air terjun ke bawah. Kau fahami asamu membumbung tinggi di angkasa. Kau tuangkan ke atas asa-asa. Dan setiap hari tamu-tamu silih berganti rutin menjelma. Kau tahu mereka begitu agung. Matahari bertamu tuk terangkan lukisan langit; bulan bertamu tuk izinkan matamu mengintip masih melayangnya asa; bintang-bintang terkadang menjelma menjadi titik-titik sunyi di baliknya.

Bangunlah! Kau layak fahami asamu lebih agung dari yang bertamu. Mereka hadir untukmu. Dan kau tidak hadir untuk mereka. Kenapa ternyata kau selipkan doamu pada mereka!?

Kau masih paksakan kepalamu mendongak ke angkasa; berharap sejuta...tanpa seikat doa; kau kan sampai pada labuhan mimpimu. Dan zaman terus berpacu secepat kecewamu yang berlari terlepas talinya dari jemari-jemari doa.

Kau masih paksakan kepalamu merunduk ke pusara; berputus sejuta asa...dengan segunung dosa; kau takkan sampai pada ujung hasratmu. Dan tanah terus mengeras sekeras tekadmu dulu; ketika kau masih mampu mengarang syair-syair.

Mereka masih tertulis...kan kutulis kembali di pelepah asamu...yang juga terkubur oleh rasa simpatiku padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar